VIRTUAL MUSEUM, ANTARA GRAFIK DENGAN SENTUHAN TEKNOLOGI

Banner baru berarti tulisan baru hehe, ngomong-ngomong soal banner atau apapun dalam desain men-desain, kita ngak bisa pungkiri bahwa grafik punya peranan besar buat kita, contoh blog ini aja, tanpa gambar atau banner rasanya kurang gimanba gitu πŸ˜€

Terlepas dari itu, kalau kita coba memikirkannya, banyak banget hal yang sangat “terbantu” oleh adanya grafik ini, salah satunya adalah “Budaya”. Ironis nya, kebudayaan secara “konvensiona” kian hari kian terkikis, banyak yang enggan untuk melestarikan budaya tersebut mungkin salah satu alasannya adalah rasa malas atau “kurangnya ketertarikan” dari budaya tersebut, kurangnya keterkaitan ini disebabkan oleh penyampaian yang monoton atau mungkin alasan lainnya.

Tanya : Terus gimana dong solusinya?

Kita hidup udah di era yang mobilitasnya tinggi, mungkin bagi sebagian orang, untuk berlibur adalah hal yang “mustahil”, sebagai contoh, kunjungan ke musium, lantas adakah solusinya, Well, solusi paling mudah adalah membuat masyarakat antusias dengan sedikit bumbu “grafik” dan sentuhan “teknologi”.

Jika mereka ga bisa datang, kenapa tidak kita saja yang menghampiri mereka!! πŸ˜€

Itulah mungkin konsep pemikiran para pembuat “Virtual Museum”.

Tanya : Virtual Museum? itu apaan sih?

Virtual museum atau dalam bahasa indonesia diartikan musium virtual adalah sebuah musium yang dihadirkan dalam bentuk digital (online), artinya sebuah musium yang dirancang dengan mengumpulkan informasi-informasi terkait dalam bidangnya kemudian dibentuk/dikemas dalam sebuah wadah online yaitu web.

Musium virtual juga sering disebut online museum, electronic museum, hypermuseum, digital museum, cybermuseum atau Web museum, jika ada yang ingin melihat detailnya silahkan lihat di mbak WIKIA ini. πŸ™‚

Tanya : Lantas apa hubungannya dengan grafik mas?

Begini, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, mobilitas tinggi ditambah kurang menariknya sebuah budaya akan membuat seseorang akan malasa melestarikan budaya tersebut, jangankan melestarikan, mungkin melihatnya juga sudah malas, oleh karena itu dengan didukung grafik diharapkan kita dapat menarik minat dari masyarakat untuk melihat tersebut, budaya-budaya tersebut dikemas dalam bentuk yang unik dan menarik perhatian (eyes caching) sehinga diharapkan akan menumbukan rasa untuk melestarikan tersebut, mau bagaimanapun pandangan pertama kan begitu mempengaruhi πŸ™‚

Kalau di indonesia saya kurang tahu apakah sudah ada musium virtual atau belum, tetapi implementasi musium virtual ini sudah banyak diterapkan di luar negri, mulai dari musium virtual yang sederhana hingga yang tergolong “Wah”

Berikut web-site yang bisa temen-temen kunjung :

  • Virtual Museum on Canada CTO
  • Virtual Museum on France CTO or CTO
  • Virtual Museum on Slovenia CTO
  • Virtual Museum of Computer ArtΒ  CTO
  • Virtual Museum Lin Hsin Hsin Art CTO

atau mungkin cek juga yang ini :

Google Art Museum

Well besar harapan bermunculan vitual museum- virtual museum seperti ini di negeri tercinta kita agar masyarakat tidak melupakan budaya nya,Β  mungkin cukup untuk postingan kali ini, lain kali kalau ada kesempatan disambung lagi

Salam hangat

greenbel

admin satu-satunya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s